Pembangunan di Desa Selur dapat dicatat pembangunannya dalam beberapa era
kepemimpinan Kepala Desa yang masing-masing memiliki hal-hal yang menonjol. Hanya sebagai dasar bahwa Pembangunan pada masa lalu masih banyak bersifat
gotong royong, yang seluruhnya berasal dari swadaya masyarakat, namun
lama-kelamaan dengan perkembangan jaman dan banyaknya kegiatan dari anggota
masyarakat sifat gotong royong tesebut makin lama makin berkurang. Akan lebih
lengkapnya kami sajikan sejarah perkembangan pembangunan dari beberapa Kepala
Desa yang pernah di Desa Selur adalah sebagai berikut :
1. SETRODRONO
Beliau bertempat tinggal di padukuhan Bowongan pada tahun 1825 s/d 1856. Beliau
ditetapkan sebagai Lurah pertama Desa Selur yang ditetapkan oleh Bupati
Trenggalek. Semula desa Selur merupakan Kamituwan (dusun) bagian dari desa
Cepoko yang saat itu ikut Kabupaten Trenggalek. Atas Usul bapak Setrodrono yang
waktu itu bertugas sebagai mantri cacar di desa Cepoko yang ditempatkan di
Kamituwan Selur untuk dijadikan desa sendiri. Dari usul tersebut Bupati
Trenggalek menyetujui pemecahan Kamituwan (dukuh) Selur dari desa Cepoko
menjadi Desa. Sebab dari hasil data dan
pemantauan mantri cacar Kamituwan Selur penduduknya sudah cukup banyak,
wilayahnya luas dan subur.
Kemudian Lurah terpilih menetapkan Desa Selur terdiri empat Kamituwan,
yaitu Gamping, Puthuk, Manggis dan Selur (yang sekarang Krajan). Untuk
melancarkan komunikasi antar Kamituwan (dukuh) dibangun jalan antar kamituwan.
Saat itu untuk pelayanan kepada masyarakat dilakukan di rumah Lurah, sehingga
belum ada Balai Desa. Beliau wafat tahun 1856 dimakamkan di Bowongan Kamituwan
(dukuh) Puthuk.
2. KERTOSENTONO
Masa Kepemimpinan beliau
yaitu tahun1856 s/d 1868. Domisili di
kampung Klumpit Kamituwan Manggis. Menjadi Lurah ke dua di Desa Selur atas
dasar hasil pemilihan secara demokratis pertama kali dilaksanakan di desa
Selur. Pada saat itu di bawah Gubernur Jendral Hindia Belanda Van Den Bosh,
dilaksanakan CULTUR STELSEL / Sistem Tanam Paksa. Guna menutup kerugian negeri Belanda akibat perang Diponegoro (1825 –
1830), Perang Padri (1828 – 1840) dan perang dengan Perancis di Eropa.
Pemerintah Hindia Belanda mewajibkan 20 % dari tanah penduduk jawa harus
ditanami tanaman yang laku keras di Eropa yaitu, Tebu, Kopi, Karet dan Kina.
Desa Selur pun tak
ketinggalan penduduknya diwajibkan menanam kopi. Hasilnya dibeli pemerintah
dengan harga murah dan hasilnya akan diangkut dan dikapalkan di pelabuhan
Panggul (Trenggalek) dan Pacitan untuk diangkut dan dijual ke Eropa. Tahun 1868
Mbah Kertosentono wafat dan dimakamkan di Klumpit Manggis.
3. PONCO WIKROMO
Masa Kepemimpinan Bapak Ponco Wikromo Tahun
1869 s/d 1887. Tempat tinggal di Pedukuhan Sampang Kamituwan Puthuk. Beliau
terkenal peternak yang handal, kerbau dan sapinya jumlahnya ratusan ekor. Beliaupun memotivasi petani dan
peternak lainya sehingga Desa Selur terkenal gudangnya ternak sapi dan kerbau.
Pada saat itu dilembah-lembah yang subur yang dekat dengan sumber air dan
sungai di cetak sawah-sawah baru. Sehingga sekali menanam padi sudah cukup
untuk dimakan satu tahun.
Beberapa laki-laki mulai menekuni pekerjaan tukang kayu dengan alat
pertukangan sederhana, seperti wadung, prekul, tatah, pasah dan gergaji.
Merekapun mulai membangun rumah dari bahan kayu dan bambu. Terbangunlah rumah dari yang sederhana hingga yang agak megah seperti yang berbentuk
Serotongan, Sinom, Dara Gepak hingga Joglo. Alat pertanian pun juga lebih berkembang seperti singkal, garu yang memanfaatkan tenaga
dari kerbau dan sapi.
Di musim kemarau antara bulan Mei s/d Oktober, mereka biasa melaksanakan
pesta perkawinan dan kitanan. Hal ini didasarkan dari budaya sejak jaman Sultan
Agung, Raja Agung Mataram Ngayogyakarta (1601 s/d 1636). Sejak agama Islam diakui
sebagai agama yang resmi, upacara-upacara perkawinan, khitanan, dan kematian diselenggarakan berdasarkan syariat/hukum Islam. Maka
diangkatlah petugas pelaksana ditingkat desa disebut Modin, ditingkat Kecamatan
Naib dan ditingkat Kabupaten dan Keraton disebut Pengulu.
Struktur Organinsasi Pemerintahan Desa termasuk Desa Selur saat itu hampir
tidak banyak berubah hingga sekarang terdiri dari LURAH, yang dipilih secara
demokratis oleh semua warga desa baik laki-laki maupun perempuan. Laki-laki dan
perempuan punya hak memilih dan dipilih menjadi pemimpin desa sesuai dengan
kecakapan, kemampuan, kearifan serta kebijaksanaan yang dimilikinya. Dan inilah
rupanya yang menjadi sendi dasar paham/ajaran demokrasi/kedaulatan rakyat yang
oleh BUNG KARNO dipilih sebagai salah satu dari Lima Soko Guru tata kehidupan
bangsa Indonesia yaitu Pancasila.
CARIK sebagai tangan kanan Lurah dibidang administrasi Pemerintahan Desa.
PUTUNGAN sebagai pembantu Lurah di lapangan sekaligus mewakili Lurah bila
berhalangan. KEBAYAN merupakan pembantu lurah di bidang komunikasi dan
informasi. SARAYUDA membantu lurah dibidang keamanan dan
ketertiban. KAMITUWO adalah Kepala Wilayah Kamituwan yang ditunjuk dan
bertanggung jawab pada Lurah.
4. SUTOKARIYO
Masa Kepemimpinan Bapak Sutokariyo,
Tahun 1888 s/d 1907 bertempat di Semanding Kamituwan Krajan. Terpilih sebagai
Lurah sebab beliau seorang petani yang utun, jujur dan adil. Pada saat beliau
jadi lurah Selur, Pemerintah Hindia Belanda mengadakan Pengukuran Tanah “Land
Classiering“ dalam bahasa dialek rakyat desa disebut “Klangsingan“
yaitu untuk menetapkan Kelas tanah dan besarnya pajak tanah.
Karena sebelumnya tanah dianggap Milik Tuhan dan Raja sebagai wakil Tuhan
yang menguasai tanah / negara. Rakyat yang menempati dan menggarap tanah hanya
diwajibkan menyetor sebagaian hasil tanah pada raja guna membiayai jalannya
roda pemerintahan. Sejak dilaksanakan “Land Classiering“ maka rakyat punya hak
milik atas tanah yang menjadi tempat tinggal dan tanah yang digarapnya. Tanah
yang dikuasai Negara disebut “Boshwiesen Lands“ atau Tanah Kehutanan dan Tanah
GG (Goverment Gemlienshaft) yang sampai sekarang tanah GG biasanya dikuasai
oleh Desa dan digunakan untuk tanah Bengkok bagi Perangkat Desa.
5. KERTOSARI
Masa Kepemimpinan Bapak Kertosari
terpilih secara demokratis tahun 1907 s/d 1928. Beliau pernah menjabat Carik di
Desa Puyung, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek. Merupakan Lurah pertama Desa
Selur yang bebas buta huruf. Terkenal pandai bergaul dengan pejabat dan rakyat.
Atas dukungan Lurah-lurah se Kecamatan Ngrayun, beliau terpilih sebagai “Demang”. Demang adalah jabatan non formal yang mengkoordinir lurah-lurah satu
kecamatan. Maka beliau dikenal dengan Nama Embah Demang Selur atau Demang
Kertosari atau Demang Kartodiharjo.
Sebagai pusat koordinasi pemerintahan desa, beliau membangun rumah dengan
tipe “Priyagung Jawa” ditempat
strategis yaitu di tepi jalan Ponorogo – Trenggalek. Terdiri dari Rumah Induk,
Rumah Joglo, dan rumah Pendopo yang digunakan untuk penerimaan tamu-tamu formal
maupun informal sekaligus merupakan Sekretariat Desa.
Berkat pengaruh “Politische – etis” yang diterapkan di Hindia Belanda, di Desa Selur pada tahun 1930
dibangunlah Vervolk Scholl (Sekolah Rakyat) 3 tahun yang merupakan dasar pendidikan modern buat masyarakat Desa Selur saat itu. Yang salah satunya murid
pertamanya adalah Istijab Sardono (yang kelak akan menggantikan posisi ayahnya
sebagai Lurah) dan setelah lulus melanjutkan “Sekolah
Ongko Loro” selama 5 tahun di Jetis Ponorogo.
6. ISTIJAB KARTODIRJO
Masa Pemerintahan Bapak Istijab
Kartodirjo tahun 1928 s/d 1950. Beliau merupakan putra dari Lurah
sebelumnya yaitu Bapak Kartosari atau lebih terkenal Mbah Kartodirjo. Beliau
terpilih sebagai calon tunggal Lurah Desa Selur dengan dibantu Carik Sardono
Sastrodiharjo adiknya sendiri. Saat itu Desa Selur dengan sebutan Tri Tunggal
Kepemimpinan Desa Selur yaitu Bapak Istijab Kartodirjo, Sardono Sastrodiharjo,
dan Parnen Partoyuwono yang saat itu beliau sebagai Kepala Sekolah Rakyat (SR)
di desa Selur.
Saat Bapak Istijab Kartodirjo
memerintah di Desa Selur telah dimulainya batas-batas desa dan kamituwan secara
jelas. Hal ini terbukti dengan adanya tanda-tanda sejenis tugu batas desa dari
batu. Di samping itu beliau juga sudah mulai menindaklanjuti pengukuran tanah
hak milik pribadi.
Perkawinan bapak Istijab Kartodirjo
dikarunia 4 putri dan satu 1 putra. Putri yang pertama dan kedua kawin dengan
Bapak Hadi Sutardjo dari Desa Sidomulyo, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek yang kemudian terpilih menjadi kepala Desa Selur. Dan
satu-satunya Putra laki-laki beliau yaitu Suryadi
merupakan kebanggaan Desa Selur, karena beliau sukses dalam perjuangan
hidupnya. Dalam bidang politik beliau menjadi Wakil Ketua MPR / DPR RI serta
menjadi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia.
7. HADI SUTARDJO
Masa Kepemimpinan Bapak Hadi
Sutardjo (Tahun 1951 s/d 1987). Beliau adalah putra Kepala Desa
Sidomulyo, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek. Lulusan Sekolah HIS (Holands
Inlands School) Trenggalek. Pada awal kemerdekaan bekerja sebagai karyawan
Kecamatan Ngrayun. Kawin sekaligus dengan dua (2) putri Bapak Lurah Selur
(Bapak Istijab). Atas dukungan masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat beliau di
pilih menjadi Lurah Selur. Beliau termasuk pemimpin yang cerdas dan cakap. Terpilih sebagai anggota DPRD TK II Kabupaten Ponorogo dari PNI (Partai
Nasional Indonesia) pada pemilu pertama di Indonesia.
Pada saat kepemimpinan beliau sudah di mulai
dibangun Balai Desa Selur yang jaraknya kurang lebih 500 meter ke arah Timur
dari rumahnya sebagai pusat dan pelayanan pemerintahan desa. Untuk memudahkan koordinasi dengan masyarakat di tiap-tiap lingkungan
dibentuk RT dan RK (Rukun Kampung) atau yang sekarang RW (Rukun Warga).
Pada masa kepemimpinan ini Desa Selur sudah mulai banyak kemajuan, karena setelah Indonesia merdeka, pemerintah mulai
memperhatikan pembangunan di desa dengan dana Subsidi Desa. Sebagaian besar dana tersebut untuk pembangunan, diantaranya dalam bidang fisik meliputi pelebaran jalan di masing-masing lingkungan, Pembangunan Jembatan, Gedung
Sekolah, Gedung Panti PKK, Puskesmas Desa, saluran irigasi dan Pasar Desa.
Dan yang sangat membanggakan, beliau adalah salah satu yang membidani
lahirnya SMP PGRI Selur dan MTs PGRI Selur. Saat itu di Desa Selur belum ada
sekolah setingkat SLTP.
Beliau memprakarsai mendirikan SMP “Argo Yoso” pada tahun 1970 di dukuh Putuk yang tempat belajarnya menumpang di SD
Selur 2, dan saat ini SMP tersebut menjadi SMP PGRI Selur. Lima (5) tahun
kemudian di dukuh Krajan didirikan PGAP (Pendidikan Guru Agama Pertama) 4
tahun, yang gedungnya menumpang di SDN Selur 1 dan saat ini menjadi MTs PGRI
Selur. Dengan berdirinya PGAP 4 tahun ini yang kebanyakan gurunya dari wilayah
Gontor Ponorogo, sehingga memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan
agama Islam di Desa Selur, yakni dengan banyaknya anak yang masuk ke PGAP serta
pembangunan masjid dan mushola.
Pergolakan Politik di Indonesia mempengaruhi pola pikir dan sikap tokoh
masyarakat serta warga masyarakat Desa Selur. Apalagi setelah beberapa putra-putri desa Selur yang telah berhasil terlibat dalam politik praktis.
Benturan-benturan kebijaksanaan dan kepentingan tak bisa dihindarkan. Golkar
berkuasa dan dampaknya terasa sampai di Desa Selur. Pada tahun 1987 Bapak Hadi
Sutardjo mengundurkan diri dari jabatannya, sebab tidak sejalan dengan politik
monoloyalitas Golkar.
8. SURJANI
Masa Kepemimpinan Bapak Surjani
(1989 s/d 1992). Beliau adalah Kepala Desa yang ditunjuk oleh Pemerintah dari
seorang Bintara AD (Angkatan Darat). Beliau berasal dari Kabupaten Madiun, yang
saat itu bertugas di Kodim Kabupaten Ponorogo. Pada masa kepemimpinan ini,
beliau sangat banyak memberikan warna dan dinamika bagi kehidupan masyarakat Desa
Selur. Karena saat itu Desa Selur perlu seorang pemimpin yang bisa menyatukan
warganya karena adanya kepentingan golongan dan politik.
Pada masa kepemimpinan beliau pembangunan di Desa Selur dengan dana DSDK
(Dana Subsidi) mengadakan rehab Balai Desa dan Kantor Desa dan penyelesainnya
dilanjutkan oleh kepala desa yang menggantikannya. Tahun 1992 masa baktinya
habis dan pensiun dari ABRI tetapi sampai sekarang beliau berdomisili di Dukuh
Krajan Desa Selur, karena sudah merasa cocok dengan kondisi wilayah dan
masyarakat desa Selur.
9. BAMBANG SUCIPTO P., S.Sos
Masa Kepemimpinan Bapak Bambang Sucipto P., S.Sos (Tahun 1993 s/d 2012). Beliau dipilih secara demokratis oleh masyarakat desa Selur dengan masa
jabatan pertama adalah 8 tahun. Kemudian Tahun
2001 dipilih kembali oleh masyarakat dengan masa jabatan 10 tahun.
Selama memegang kepemimpinan di Desa Selur beliau sudah banyak sekali
memberikan warna dan dinamika, pola pikir serta wawasan kepada masyarakat untuk
bersama-sama bergotong-royong
membangun desa. Salah satunya adalah menyelesaikan Pembangunan Balai Desa serta
Rehab Kantor Desa serta Panti PKK.
Beliau berpendapat bahwa masyarakat desa Selur bisa maju dan
perekonomiannya bisa meningkat apabila sarana dan prasarananya tersedia dengan
baik. Untuk itu sebagai prioritasnya adalah pembangunan sarana dan prasarana
seperti, jalan, jembatan, kantor desa, balai desa, puskesmas desa dan lain sarana-prasarana
lainnya. Adapun pendanaan untuk
pembangunan sarana dan prasarana tersebut sebagaian berasal dari masyarakat, di
samping dana dari pemerintah daerah maupun pusat.
Pembangunan fisik maupun pemberdayaan masyarakat sejak era reformasi telah
banyak diterima oleh masyarakat desa Selur, diantaranya adalah
- Program Pengembangan Kecamatan (Tahun 2000 s/d 2006).
- Dana Subsidi Desaatau Kelurahan (DSDK)
- Program WS-LICH
- APP (Anti Proverty Program)
- P2LK
- GERHAN
- WANA FARMA
- PDKMK.
- PAM-DKBK
- PNPM-MP(Tahun 2006 s/d sekarang)
Di samping itu sejalan dengan program dari pemerintah, pada masa
kepemimpinan beliau, Desa Selur juga menerima
prasarana penerangan yang modern yakni jaringan listrik PLN hampir menyeluruh
di masyarakat. Dari segi pendidikan, bahwa untuk SMA Negeri 1 Ngrayun juga
ditempatkan di Desa Selur, sehingga secara tidak langsung akan menambah nilai
kualitas sumber daya manusia khususnya para generasi muda usia sekolah. Selain itu juga bisa meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar lokasi
sekolah.
10. MARYOTO
Masa Kepemimpinan Bapak MARYOTO (Tahun 2012
s/d sekarang). Pada awalnya beliau adalah Kamituwo Dukuh Putuk, karena merasa terpanggil
untuk membangun Desa Selur, maka beliau mencalonkan diri untuk menjadi Kepala
Desa. Dalam Pesta Demokrasi masyarakat Desa Selur pada tanggal 4 Juli 2012, akhirnya beliau terpilih untuk menjadi Kepala Desa Selur selama 6 tahun kedepan. Beliau dilantik tanggal 17 Juli 2012 oleh Bupati Ponorogo di Pendopo Kabupate
Ponorogo.